Berawal dari hobi, Stephanie Tjahjadi (50) sukses mengajarkan dan memperkenalkan patchwork kepada wanita-wanita Indonesia. Selain dengan mengajar, ia juga telah menerbitkan 5 buku tentang patchwork.
Kesenangan pada patchwork berawal ketika anaknya membawa oleh-oleh buku tentang patchwork tahun 1992. Waktu itu sang anak baru pulang dari homestay di Amerika selama beberapa bulan. “Gambar dan variasi patchwork pada buku itu sungguh bagus,” jelas Stephanie.
Seperti cinta pada pandangan pertama, ibu 3 anak ini langsung mencari tempat kursus khusus patchwork. Akhirnya pada tahun yang sama ia ikut kursus patchwork di Koperasi Wanita Indonesia. Dari kursus itu ia merasa mendapat ilmu dan merasa bahwa patchwork adalah dunianya. Karena memang sudah suka, ia sangat serius belajar.
Tidak puas belajar lewat kursus, ia juga belajar dari buku patchwork yang dikirim tantenya dari Jerman. “Waktu itu buku patchwork di Indonesia sangat langka dan kalau ada kurang bagus isinya,” jelas Stephanie yang tadinya menerima jahitan ini.
Awalnya ia membuat patchwork untuk diri sendiri karena memang senang. Tidak dinyana, beberapa teman yang melihat hasilnya langsung berniat membeli karena bagus. Dari situ ia semakin bersemangat dan berusaha menghasilkan produk patchwork yang berkualitas.
Bahkan beberapa temannya banyak yang ingin belajar darinya. Karena desakan dari teman-teman serta keluarganya juga mendukung, akhirnya ia membuka kursus privat di rumahnya di bilangan Kelapa Gading. ini.
Diakui Stephanie, alat-alat patchwork memang masih mahal karena harus didatangkan dari luar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan alat untuk para muridnya, ia sampai harus membuat sendiri. “Saya sampai membuat pamidangan empat persegi empat sendiri karena di Indonesia memang belum ada,” jelas istri Antonius Hendra Tjahjadi ini.
Selain mengajar di rumah, ia juga bekerjasama dengan Apindo menjadi trainer khusus patchwork untuk para UKM di daerah-daerah. Untuk sosialnya, ia juga rutin mengajar untuk orang yang tinggal di daerah kumuh tanpa bayaran. “Saya memang senang mengajar,” jelas wanita yang sudah menulis 5 buku patchwork ini. Ibu Stephanie juga menjadi salah satu pengajar di Klub NOVA.
Ditanya arti kepuasan menjadi seorang pengajar, wanita yang pernah kursus singkat patchwork di Jerman ini (2004 & 2007) berujar, ”Kalau murid saya berhasil, dan mereka bisa mencari nafkah atau tambahan penghasilan dari patchwork ini,” tegas ibu 3 anak ini.
Ke depannya, Stephanie ingin mempunyai workshop dengan menyediakan aneka peralatan patchwork yang lengkap. “Saya juga punya angan-angan ingin menerbitkan majalah khusus patchwork yang terbit secara regular seperti di luar negeri,” ujar Stephanie.
R. Suryanto