Kerajinan clay memang sudah menjadi darah daging Indira (28). Lulus dari sarjana ekonomi, bukannya mencari kerja, tapi malahan asyik menerima pesanan clay. ”Sebenarnya selesai kuliah, saya sudah diterima di bank, tapi saya pilih menekuni clay,” jelas wanita yang sudah menulis 7 buku ini.
Sejak dari SMP, ia memang sudah senang dengan kerajinan tangan. Ia membuat sendiri gelang tangan persahabatan yang terbuat dari benang sulam. Belum terpikir untuk menjualnya. ”Waktu itu, aku buat gelang untuk dipakai sendiri dan dibagikan beberapa teman,” jelas wanita kelahiran Magelang ini.
Masuk SMA, ia berkreasi dengan manik-manik dan juga kain flanel yang ia buat menjadi boneka dan gantungan kunci. Walaupun senang membuat sesuatu yang baru, tapi belum terpikir untuk menjualnya. Baru setelah masuk kuliah di Universitas Tarumanegara mengambil Ekonomi, Indira mulai menawarkan hasil kreasinya ke teman-teman kuliah. Tidak dinyana, mereka senang dengan hasil buatannya. Mulai dari situ, ia makin bersemangat dan terus mengembangkan hasil kreasinya.
Sampai akhirnya ia tertarik dengan clay, yang menurutnya bisa dibuat apa saja sesuai kreativitasnya. Ada beberapa clay yang dikenal antara lain: polymer clay, paper clay, dan clay tepung. Polymer clay memerlukan pemanggangan dan bahan bakunya relatif mahal, sedangkan paper clay cukup murah dan mudah membuatnya. Indira memilih clay tepung karena bahannya relatif paling mudah didapatkan dan hasilnya lumayan bagus.
Untuk lebih memahami clay, tahun 2003 Indira kursus clay tepung. Pada awal kursus, ia langsung belajar membentuk monyet dan jerapah secara utuh. Ternyata, membentuk binatang adalah pelajaran yang relatif sulit dipelajari oleh pemula. Ia menyarankan, bagi pemula sebaiknya belajar yang simpel-simpel saja seperti bunga.
Setelah 3 kali pertemuan, ia memutuskan untuk belajar sendiri lewat internet. Ia mencari contoh-contoh gambar clay di dalam dan luar negeri. Dari hasil browsingnya itu, ia modifikaskan dengan daya imajinasi untuk mencari bentuk yang paling unik. Ia juga banyak menggunakan daya khayalnya untuk menciptakan bentuk yang tidak pasaran. Misalnya ia membuat ’suasana kehidupan laut lengkap dengan putri duyung dan ikan lain.”
Karena banyaknya orang yang ingin belajar, ia akhirnya menulis buku tentang clay. Ia ingin membagikan ilmunya kepada pembaca yang ingin belajar clay mulai dari awal. Tidak hanya clay, ia juga menulis buku tentang membuat boneka dari kain flanel. ”Sudah 7 buku yang saya tulis dan sebagian besar sudah cetakan ke-2,” ujar wanita berhobi main game.
Semenjak menelurkan buku, ia banyak diminta untuk mengajar di dalam dan luar kota. Pernah ia harus mengajar membuat clay di hadapan 200 orang. Hasilnya, ricuh. Pesertanya tidak puas karena tidak tertangani dengan baik, pengajar juga tidak puas karena tidak banyak yang mendapatkan ilmu. ”Belajar dari peristiwa itu, saya kalau mengajar ingin jumlah peserta maksimal 20 orang saja,” jelas salah satu pengajar di Klub NOVA ini.
Untuk pemula yang ingin belajar clay, Indira menyarankan mengikuti kursus terlebih dahulu supaya langsung dapat dasar dan teknisnya. Setelah ikut kursus, baru bisa baca buku atau internet untuk pengembangannya.
Ke depannya, Indira bercita-cita membuat buku tentang clay yang diterbitkan di luar negeri, sehingga bisa lebih mengenalkan budaya Indonesia. Karena setiap clay, selalu menampilkan bentuk-bentuk budaya lokal. ”Saya juga ingin mempunyai workshop sendiri lengkap dengan kreasi dan buku-buku pendukungnya,” ujar Indira.
Yanto
Foto-foto: R. Suryanto